Inilah Cara Bermedia Relations Masa Kini!

Inilah Cara Bermedia Relations Masa Kini!

Media relations adalah suatu usaha seorang public relations dalam menjalin hubungan baik dengan media untuk membangun dan mempertahan reputasi perusahaan melalui pemberitaan pada media massa.

Apa saja sih kegiatan media relations?

Kegiatan media relations meliputi proses pengiriman press release (siaran pers), mengadakan konferensi dan perjalanan pers, menjadi narasumber media, mengadakan media gathering, mengadakan wawancara khusus, serta merencanakan special event.

Lalu, apa sih tips dalam melakukan kegiatan media relations masa kini?

Ini dia tips-tips media relations masa kini yang telah didapat dari diskusi narasumber BRIEFER pada webinar “What Media Want From Public Relations?” kemarin bersama mas Dhimas Ginanjar sebagai pimpinan redaksi jawapos.com, kak Dina Vionetta selaku praktisi corporate communications. Let us guide you through.

1. Mengenal media yang dituju dengan baik

Sebelum kita menyebar press release dan membuat program, pastikan kita mampu mengidentifikasi media yang cocok serta mengenal baik jenis media yang akan kita pilih. Apabila kita memiliki press release mengenai musik, maka kita juga harus memilih media yang sesuai dengan topik tersebut untuk meningkatkan peluang kita dalam memiliki berita yang akan dimuat.

2. Membuat press release dengan news value dan judul eye-catching

Setelah menargetkan media yang tepat, kita harus menyiapkan press release yang memiliki news value atau nilai berita yang tinggi beserta judul yang mampu menarik orang untuk membaca. Pastikan juga isinya detail, jelas, adanya kutipan dari para petinggi, dan memiliki kegunaan dan kelayakan untuk disebarkan kepada masyarakat.

3. Tidak membuat press release yang terlalu hard-selling

Jadikan press release yang kamu buat bersifat soft-selling. Berita yang bersifat hard-selling adalah bahan yang termasuk sebagai iklan sehingga tidak dapat diberitakan sebagaimana berita normal pada biasanya.

4. Keep in touch dengan jurnalis dan awak redaksi media

Tahukah kamu? Tak hanya diajak makan siang bareng untuk ngobrol dan berdiskusi, jurnalis sangat menghargai upaya-upaya kecil kita dalam menjalin hubungan baik dengannya melalui ucapan selamat ulang tahun ataupun ucapan lebaran lho.

Dengan memiliki hubungan yang baik, jurnalis dan awak media akan selalu open dan menunggu jawaban kita apabila adanya masalah.

5. Selalu ramah dan terbuka dengan pertanyaan

Kita harus selalu ramah dan terbuka untuk segala pertanyaan yang awak media lontarkan. Jangan sampai kita maupun tim kita acuh terhadap para rekan jurnalis. Yang mereka inginkan hanya jawaban untuk menindaklanjuti kabar yang beredar, and we should always be around when they need necessary informations.

Jika tidak, awak media kemungkinan akan mendapatkan informasi dari lain pihak yang malah dapat merugikan perusahaan.

6. Membuat acara interaktif untuk para jurnalis

Dengan mengadakan acara yang interaktif, perusahaan dapat mengumpulkan banyak jurnalis sambil membangun relasi.

Rekan jurnalis juga akan bahagia dan lancar dalam membuat berita dan dapat merasakan sendiri fitur dari produk yang telah kita luncurkan. The output? An engaging story.

7. Tidak melibatkan amplop dalam menjalin hubungan dengan media

Hindari selalu berpikir bahwa media membutuhkan “amplop” untuk berita yang kita ingin terbitkan, karena media dan jurnalis punya kode etik pekerjaan. Hal tersebut juga dapat memicu kebiasaan transaksi yang kurang sehat kedepannya.

8. Memberikan statement yang didukung dengan data 

Awak redaksi media akan terus mendapatkan tantangan dengan semakin berkembangnya era informasi, sehingga berita yang diberikan pun harus kredibel dan berkualitas.

Untuk itu, PR tentu harus memberikan berita dengan data-data yang akurat agar informasi kepada masyarakat dapat dipenuhi. Hal ini juga untuk menghindari “blunder” yang akan terjadi apabila terjadinya suatu krisis maupun adanya berita hoax yang beredar mengenai perusahaan.

Semoga informasi berikut dapat bermanfaat bagi para praktisi PR dan semua orang yang tertarik terhadap karir menjadi seorang PR. Selamat mempraktikkan!

Mengapa Media Monitoring Penting?

Mengapa Media Monitoring Penting?

Perusahaan tentunya perlu mempunyai strategi komunikasi yang tepat untuk mencapai tujuan-tujuan bisnis. Tanpa strategi komunikasi yang direncanakan dengan baik dan tepat, bisnis tidak akan dapat berkembang. Lalu bagaimana sih perusahaan dapat mulai merencanakan sebuah pendekatan strategi komunikasi? Salah satu caranya adalah dengan melakukan riset mendalam melalui media monitoring.

Sebelum itu, mari kita bahas mengenai apa itu media monitoring. Jika dikutip dari William J. Comcowitch dalam Media Monitoring the Complete Guide, media monitoring adalah proses membaca, menonton, atau mendengarkan isi pemberitaan media massa, yang kemudian akan diidentifikasi, disimpan, dan dianalisis kontennya sesuai dengan topik atau kaca kunci tertentu.

Dalam kata lain, media monitoring merupakan sebuah kegiatan pengumpulan data dari berbagai saluran media untuk dianalisis dan diidentifikasi. Proses ini meliputi membaca, menonton, mencatat sampai mendengarkan sebuah konten editorial yang bersumber dari media. First thing first, yuk kita bahas evolusi dari media monitoring.

Jenis-jenis aktivitas media monitoring 

Ada 3 jenis aktivitas media monitoring yang perlu dilakukan oleh perusahaan: 

  1. Media clipping

Dokumentasi berupa artikel, naskah berita, dan iklan media massa. Bentuknya dapat berupa teks dan video.

  1. Media tracking 

Melacak jejak opini publik atas suatu kejadian (events) tertentu atau isu-isu tertentu pada media massa.

  1. Media content analysis

Menganalisis isi sebuah teks yang dimana nantinya teks akan  ditafsirkan dalam unit analisis yang bisa dihitung.

Aktivitas media monitoring tersebut akan menghasilkan output yang dapat membantu strategi komunikasimu, seperti : 

  1. Issues & key opinion leader

Memetakan isu yang berkembang dan mengukur KOL yang berpengaruh.

  1. Public engagement

Menghitung ketertarikan publik pada suatu isu serta mengukur gaungnya di masyarakat.

  1. Brand coverage & brand health

Membaca popularitas sebuah brand atau organisasi dari sisi public relations.

  1. Competitor’s issue & brand highlight

Memantau isu dan campaign yang direalisasikan oleh kompetitor serta melihat isu pada sektor spesifik.

  1. Trend mapping

Memetakan trend pemberitaan / percakapan serta memprediksi krisis atau isu yang berpotensi untuk muncul.

  1. Market perception

Memberikan wawasan terkait persepsi publik dan trend pasar.

Nah, seperti yang dipaparkan diatas, berbagai macam insight yang didapatkan melalui media monitoring dapat memberikan kita langkah atau strategi yang tepat untuk ditempuh selanjutnya dalam bisnis. Hence, that’s why media monitoring is one of the important things to do for businesses to thrive.

Penjelasan lengkap terkait media monitoring bisa kamu dapatkan dengan menonton video webinar BRIEFER mengenai ‘Media Monitoring & Data Analysis: Transforming Your Communications Approach’ di channel Youtube BRIEFER melalui link ini https://www.youtube.com/watch?v=zWsfxXj_9sY.

Semoga informasi ini dapat membantu ya!

Jelang Tahun Politik, Praktisi PPGA Berkapasitas Mumpuni Kian Dibutuhkan

Jelang Tahun Politik, Praktisi PPGA Berkapasitas Mumpuni Kian Dibutuhkan

Kebutuhan akan praktisi public policy and government affairs (PPGA) yang profesional oleh dunia usaha, industri juga pemerintahan, dinilai terus tumbuh. Hal itu sejalan dengan tuntutan kemampuan komunikasi publik dan mengelola stakeholders yang mumpuni, diiringi kecerdasan politik yang matang dalam menghadapi berbagai tantangan tak terkecuali menjelang tahun pemilu 2024.

Terkait hal itu, Chairman of Indonesia Public Policy and Government Affairs (IPPGA) Arief Budiman mengatakan praktisi PPGA adalah satu profesi yang relatif baru tumbuh di Indonesia. Hal tersebut dijelaskan Arief dalam workshop bertema ‘Be Prepare Before 2024 Election’, yang diselenggarakan oleh BRIEFER bersama IGICO, dan IPPGA di Hotel Santika Seminyak, Bali, pada Selasa (22/11/2022).

Menurut Arief, profesi ini baru tumbuh sekitar 5 – 10 tahun ke belakang. Praktisi PPGA yang mempunyai kapasitas memadai sangat dibutuhkan terutama dalam konteks menavigasi kepentingan korporasi dengan pemerintahan, baik itu kebijakan publik maupun politik.
“Yang dilaksanakan oleh para praktisi public policy and government affairs itu lebih menavigasi perusahaan karena kepentingan perusahaan itu, keingintahuan perusahaan terhadap dinamika kebijakan publik, bahkan politik,” ujarnya.

Terlebih saat ini konstelasi politik dalam negeri kian menghangat menjelang tahun pemilu 2024. Di mana kelompok politik secara terang-terangan atau tidak, sudah memperlihatkan kepentingan masing-masing. Adapun pemilu jelas akan berdampak terhadap ekonomi, maupun berbagai kebijakan publik lainnya.

Profesional PPGA perlu memiliki kapasitas, kapabilitas dan jaringan yang kuat. Yaitu mampu membangun policy consensus hingga menjadi legislation and regulatory thought partner. “Ketika sudah menjadi mitra terpercaya, maka level of trust itu meningkat. Komunikasi tidak sekadar komunikasi, tetapi juga terbangun relasi yang positif. Maka perusahaan itu menjadi mitra tukar pikiran bagi antar perusahaan dan pemerintah,” ujarnya menekankan.

Oleh karena itu praktisi PPGA yang mumpuni perlu mempersiapkan beberapa hal utama yakni knowledge on public policy, paham/mengerti politik, ability di bidang corporate communication yang berkaitan erat dengan diplomacy, serta pemahaman terkait legal dan memahami aspek bisnis.

Dalam acara tersebut hadir pula sebagai pembicara Neneng Herbawati selaku Chief Executive Officer (CEO) IGICO Public Affairs Advisory yang juga merupakan issue management practitioners. Neneng menjelaskan bahwa ilmuwan sosial di US Army College tiga dekade lalu sudah memperkirakan tantangan ke depan yang akan dihadapi adalah sebuah situasi yang volatility, uncertainty, complexity, dan ambiguity (VUCA).

“Bagaimana VUCA di Indonesia menjelang 2024 yang merupakan tahun politik. Sementara 2023 ancaman resesi global akibat geopolitik mengakibatkan terjadinya krisis pangan dan krisis energi. Artinya sebuah situasi yang complex, uncertainty, dan membuat bingung, juga ditambah dengan 4 disrupsi dampak dari era VUCA yakni pemikiran, budaya, public relation, dan regulasi,” jelasnya.

Oleh karena itu, praktisi PPGA yang mumpuni bisa menghadapi VUCA dengan berani menerima tantangan, merespon secara cepat, dan yang paling penting adalah selalu inovasi dan berfikir kreatif. Neneng pun menekankan hal yang dibutuhkan korporasi dalam menghadapi VUCA dari seorang professional adalah kemampuan meng-update berita terkait industri dan politik, mendengarkan feedback dari customer, menerapkan komunikasi yang efektif, selalu memberikan pelatihan pada karyawan. Dan terakhir, membentuk tim yang bisa berkolaborasi dan diajak bekerja sama.

Value Organisasi

Dalam kesempatan yang sama, corporate communication practitioners I Dewa Ayu Sugiarica menjelaskan bagaimana pengelolaan stakeholders yang ideal. Terlebih dalam menghadapi isu-isu sensitif dan berbagai kemungkinannya. Menurutnya hal yang harus diprioritaskan adalah value dari perusahaan atau organisasi.

“Mungkin nanti kita akan menghadapi tahun politik. Artinya akan banyak extraordinary event misalnya yang akan kita hadapi. Tentu kita harus mempertahankan value dari organisasi kita, karena turunannya di key message yang nanti akan kita gunakan ke target publik kita,” ujar I Dewa Ayu Sugiarica yang juga menjabat Kaprodi Program Studi Ilmu Komunikasi di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Udayana.

Di tempat yang sama, Aditya Sani, CEO BRIEFER mengungkapkan bahwa BRIEFER menyelenggarakan workshop tersebut untuk mempertemukan para praktisi dan pelaku bisnis agar memperbanyak perjumpaan dan pertukaran ide, dan pemikiran sehingga diharapkan dapat mempercepat perkembangan industri, baik government affairs maupun komunikasi. “Ke depan, kami akan lebih banyak mempertemukan lebih banyak praktisi, baik secara hybrid, offline, dan online. Karena perjumpaan, diskusi dan berbagi cerita mengenai best practices akan membangun iklim komunitas demi industri yang berkembang lebih baik.”

**